Jumat, 18 Juni 2021
Kamis, 17 Juni 2021
Selasa, 02 Juni 2020
Santrikah Aku ? | Puisi
SANTRIKAH AKU ?
Jika kubaca definisi tentang santri
Tak ada satupun yang ada padaku
Tapi jika ku baca definisi orang munafik
Semua ada padaku
Santrikah aku ?
yang lain sibuk dengan Alqur’an
ku sibuk dengan chattingan
yang lain sibuk dengan hafalan
ku sibuk dengan facebookan
yang lain asik melalar nadzam imriti
ku sibuk membaca story
Santrikah aku ?
Santri dulu gigih berjuang
Aku gigih menghabiskan uang
Santri dulu mati-matian memperjuangkan negeri
Aku justru mempergaduh suasana negeri
Santrikah aku ?
Katanya negara memanggilku
Aku tak mendengarkan panggilan itu
Katang masyarakat mmembutuhkanku
Aku tak mau tahu
Santrikah aku ?
Katanya aku kebanggaan orang tua
Nyatanya aku tak bisa apa-apa
Katanya aku benteng panjaga bangsa
Nyatanya aku rapuh tak berdaya
Santrikah aku ?
Mubasir Anwar
Rabu, 27 Mei 2020
Re: عجائب الدنيا
Pada tanggal Rab, 27 Mei 2020 15:13, Mubasir Anwar <anwar.mubasyir@gmail.com> menulis:
Jumat, 27 Juli 2018
Lingsir Wengi, Doa Munajat Sunan Kalijaga

Penggunaan lagu Lingsir Wengi ini sebagai lagu latar dari film hantu Indonesia membuat makna lagu ini menjadi salah arti, sampai-sampai lagu lingsir wengi ini dianggap sebagai lagu yang bisa mengundang kedatangan mahluk halus jika diputar tengah malam.
Sebenarnya lagu Lingsir Wengi ini biasa dinyanyikan oleh ibu-ibu untuk menidurkan anaknya di kala malam yang sunyi, yang berfungsi agar si anak diberikan perlindungan oleh Tuhan, sedangkan nama lain dari Lingsir Wengi yaitu kidung Rumekso Ing Wengi.
Berikut ini beberapa hal yang berkaitan dengan makna lagu lingsir wengi ini:
1. Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga yang mempunyai nama kecil Raden Said ini memiliki nama-nama lain seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Beliau lah yang menciptakan lagu atau kidung Lingsir Wengi tersebut. Nama Kalijaga diperoleh karena beliau menyukai berendam di sungai pada saat beliau berada di Cirebon. Namun menurut pengamat lainnya, menyatakan bahwa kata Kalijaga berasala dari bahasa arab yaitu “Qadli Dzaqa” yang berarti penghulu suci kesultanan.
Sunan Kalijaga yang mempunyai nama kecil Raden Said ini memiliki nama-nama lain seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Beliau lah yang menciptakan lagu atau kidung Lingsir Wengi tersebut. Nama Kalijaga diperoleh karena beliau menyukai berendam di sungai pada saat beliau berada di Cirebon. Namun menurut pengamat lainnya, menyatakan bahwa kata Kalijaga berasala dari bahasa arab yaitu “Qadli Dzaqa” yang berarti penghulu suci kesultanan.
2. Sarana Dakwah
Sunan Kalijaga sangat menyukai kesenian, sehingga beliau memakai kesenian sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam pada masa itu. Sunan Kalijaga menggunakan seni ukiran, wayang, gamelan, serta nyanyian dalam dakwahnya. Salah satunya yang beliau gunakan adalah kidung Lingsir Wengi tersebut yang berisi doa kepada Tuhan. Selain itu, ia juga menciptakan baju takwa, perayaan sekatenan di Yogyakarta, dan lain-lain.
Sunan Kalijaga sangat menyukai kesenian, sehingga beliau memakai kesenian sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam pada masa itu. Sunan Kalijaga menggunakan seni ukiran, wayang, gamelan, serta nyanyian dalam dakwahnya. Salah satunya yang beliau gunakan adalah kidung Lingsir Wengi tersebut yang berisi doa kepada Tuhan. Selain itu, ia juga menciptakan baju takwa, perayaan sekatenan di Yogyakarta, dan lain-lain.
3. Lagu Gending Jawa
Sunan Kalijaga menciptakan kidung Lingsir Wengi dengan memakai pakem gending Jawa yaitu Macapat. Pakem Macapat ini terdiri dari 11 macam pakem yang salah satunya yaitu pakem Durma yang dipakai dalam Lingsir Wengi.
Lagu-lagu yang memakai Pakem Durma harus mencerminkan suasana yang keras, sangar, suram, kesedihan, bahkan bisa mengungkapkan sesuatu yang mengerikan dalam kehidupan. Oleh sebab itu, lagu Lingsir Wengi dilantunkan dengan perasaan yang lembut, tempo pelan, dan sangat menyayat hati.
Sunan Kalijaga menciptakan kidung Lingsir Wengi dengan memakai pakem gending Jawa yaitu Macapat. Pakem Macapat ini terdiri dari 11 macam pakem yang salah satunya yaitu pakem Durma yang dipakai dalam Lingsir Wengi.
Lagu-lagu yang memakai Pakem Durma harus mencerminkan suasana yang keras, sangar, suram, kesedihan, bahkan bisa mengungkapkan sesuatu yang mengerikan dalam kehidupan. Oleh sebab itu, lagu Lingsir Wengi dilantunkan dengan perasaan yang lembut, tempo pelan, dan sangat menyayat hati.
4. Lagu Tolak Bala
Lagu Lingsir Wengi dipakai oleh sunan Kalijaga setelah melakukan solat malam yang berfungsi untuk menolak bala atau mencegah perbuatan makhluk gaib yang ingin mengganggu.
Lagu Lingsir Wengi dipakai oleh sunan Kalijaga setelah melakukan solat malam yang berfungsi untuk menolak bala atau mencegah perbuatan makhluk gaib yang ingin mengganggu.
Selain itu makna lagu tersebut tersirat menyatakan sebuah doa kepada Tuhan seperti yang dinyatakan dalam lirik lagunya :
Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas jo ngetoroAku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet
Dalam Bahasa indonesia :
Menjelang malam, dirimu(bayangmu) mulai sirna…
Jangan terbangun dari tidurmu…
Awas, jangan terlihat (memperlihatkan diri)…
Aku sedang gelisah,
Jin setan ku perintahkan
Jadilah apapun juga,
Namun jangan membawa maut…
Jangan terbangun dari tidurmu…
Awas, jangan terlihat (memperlihatkan diri)…
Aku sedang gelisah,
Jin setan ku perintahkan
Jadilah apapun juga,
Namun jangan membawa maut…
Sebenarnya lagu lingsir wengi versi aslinya justru lebih panjang dari yang kita ketahui, dan memiliki makna yang sangat mendalam.
Berikut lirik asli dari lagu lingsir wengi
Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno
Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak
Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa
Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman
Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal
Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas
dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun
tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap.
dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun
tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap.
Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.
Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan.
Hatiku Adam dan otakku nabi Sis.
Ucapanku adalah nabi Musa.
Nafasku nabi Isa yang teramat mulia.
Nabi Yakup pendenganranku.
Nabi Daud menjadi suaraku.
Nabi Ibrahim sebagai nyawaku.
Nabi sulaiman menjadi kesaktianku.
Nabi Yusuf menjadi rupaku.
Nabi Idris menjadi
rupaku.
Ali sebagai kulitku.
Abubakar darahku dan
Umar dagingku.
Sedangkan Usman sebagai tulangku.
Ucapanku adalah nabi Musa.
Nafasku nabi Isa yang teramat mulia.
Nabi Yakup pendenganranku.
Nabi Daud menjadi suaraku.
Nabi Ibrahim sebagai nyawaku.
Nabi sulaiman menjadi kesaktianku.
Nabi Yusuf menjadi rupaku.
Nabi Idris menjadi
rupaku.
Ali sebagai kulitku.
Abubakar darahku dan
Umar dagingku.
Sedangkan Usman sebagai tulangku.
Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia.
Siti fatimah sebagai
kekuatan badanku.
Nanti nabi Ayub ada didalam ususku.
Nabi Nuh
didalam jantungku.
Nabi Yunus didalam otakku.
Mataku ialah Nabi
Muhamad.
Siti fatimah sebagai
kekuatan badanku.
Nanti nabi Ayub ada didalam ususku.
Nabi Nuh
didalam jantungku.
Nabi Yunus didalam otakku.
Mataku ialah Nabi
Muhamad.
Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka
lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.
lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.
Kamis, 23 November 2017
MAKALAH SHOLAT (Mubasir dan Aan)
MAKALAH
SHOLAT
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Fiqih
Dosen
pengampu: Dra.Siti Muhtamiroh, M.S.I.
Oleh:
Aan Aji Prasetyo
Mubasir Anwar
|
53030170005
53030170006
|
JURUSAN
ILMU HADITS
FAKULTAS
USHULUDDIN, ADAB, DAN HUMANIORA
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LatarBelakang
Sering kali kitasebagai orang
islamtidakmengetahuikewajibankitasebagaimahluk yang paling sempurnayaitushalat,
atauterkadang tau tentangkewajibantapitidakmengertiterhadapapa yang dilakukaan.
Sholatmerupakanucapandanperbuatan yang
diawalidengantakbirsertadiakhiridengansalamdengansyarat-syarattertentu.
Dalamkenyataansehari-hariterkadangmasihada di antarakita yang
belummengetahuibagaimanacarasholat yang baik. Meskipunspesifikasi “baik”
itukondisional, dalammakalahiniakan kami bahasapaitusholatbesertahal-hal yang
bersangkutandengansholatsemampu kami.
BAB
2
PEMBAHASAN
A.
PengertianSholat
Sholatsecaraetimologiadalahdoa, sedangkansecarterminoloogiadalahucapandanperbuatan
yang di awalidengantakbirdandiakhiridengansalamsesuaidengansyarat-syarattertentu.
B.
Syarat-SyaratSholat
Syarat-syaratsholatadalahsesuatuhal yang harus di penuhisebelumkitamelaksanakanshalat.
Syaratshalat di bagimenjadi 2 yaitu:
a.SyaratWajibSholat
1. Beragamaislam:makatidakwajibbagi orang kafirasli,
dantidaktidakwajibbaginyamengqadha’inyajikamasukislam. Sedangkan orang
murtadwajibmengqadha’inyajikakembalimasukislam
2. AqilBaligh:Makatidakwajibbagianakkecil, baiklaki-lakibagiperempuan,
namundemikiankeduanyadiperintahkanuntuksholatsetelahberumur 7
tahunjikatelahtamyizpadaumurtersebut, jikabelummakasetelahtamyiz,
dandipukulsebabmeninggalkansholatsetelahgenapberumur 10 tahun.
3.Berakal :makatidakwajibshalatbagi orang gila.
b.Syarat-SyaratSahSholat
1.sucinyaanggotabadandarihadas
sucinyaanggotabadandarihadast, baikkecilmaupunbesar.
2.menutupaurat
Menutupaurat ,meskipunsendirianberada di kegelapan, yang
menjadipenutupauratadalahpakaian yang suci.
Disampingitujugawajibmenutupauratdiselainshalatdaripandanganmanusia. Sementaramenutupinyadaridirisendiritidakwajib,
namunmakruhmelihatnya.
*bagilaki-laki: bagianantarapusarsampailututbegitujugadenganhamba
sahayaperempuan
*bagiperempuan:seluruhanggotabadankecualitelapaktangandanwajah,
3.menetapditempat
yang suci
Makatidaksahsholatnya orang yang sebagianbadanataupakaiannyabersentuhandengannajissaatberdiri,
duduk, rukukatausujud.
4.tepatpadawaktusholat
Mengetahuimasuknyawaktusholatataumenduganyadenganijtihad,
apabilaseorangsholattidakmengetahuihaltersebut, makasholatnyatidaksah,
meskipunberlangsungtepatwaktu.
5. menghadapkiblat
Yaitumenghadapka’bahdengan dada.
C.
Rukun-rukunsholat
Rukunadalahsesuatu yang haruskitapenuhiketikasholat.
Sedangkanrukunsholatadatujuhbelas
1.
Niat di
dalamhati
2.
Takbiratul
ihram
3.
Berdirijikamampu
4.
Ruku’
5.
Membaca Surah
Al-Fatihah
6.
Thuma’ninah
di dalamrukuk( palingtidaklamanyasepertimembacasubhanallahsatu kali).
7.
I’tidal
8.
Thuma’ninah
di dalamI’tidal
9.
Sujud
10. Thuma’ninah di dalamsujud
11. Duduk di antaraduasujud
12. Thuma’ninah
13. Dudukuntukmembacatasyahudakhir
14. Membacatasyahudakhir
15. MembacasholawatkepadaRasuulullah
16. Membacasalam
17. Tartib ( sesuaiurutan )
D.
Waktupelaksanaansholatfardlu
1.SholatDzuhur
Dari
bergesernyamataharidaritengahlangitsampaidenganbayangansuatubendasamadenganbendatersebut.
2. SholatAsar
Dari bertambahnyabayangan yang menyamaibendanyasampaiterbenamnyamatahari.
Shalatasarmemilikilimawaktu. Shalatasarinimemilikiwaktu yang disebutwaktutahrim
,yaitumengakhirkanshalathinggamenyisakanwaktu yang
tidakcukupuntukmelakukansholat.
3. ShalatMaghrib
Dari terbenamnyamataharihinggahilangya mega merah di langit.
4. ShalatIsya’
Dari hilangnya mega merah( daerah yang mega merahnyatidakhilang,
makawaktushalatisya’daerahtersebutialahberlalunyamasahilangnya mega
merahdaerahterdekatmereka) sampaidenganterbitmyafajarshadiq.
5. ShalatSubuh
Dari terbitnyafajarshadiqsampaiterbitnyamatahari.
BAB
3
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sholatmerupakankewajibanbagisetiapmuslim, karenahalinidisyari’atkanoleh
Allah SWT, bahkansholatinimerupakanibadah yang paling penting.
Terlepasdariperbedaanmengenaiprakteknya, halinitakperlukitaperdebatkankarena di
dalam Al-Qur’an sendiritidakadaayat yang
secaraterperincimenjelaskantentangtatacarasholat.
Tugaskitasebagaimuslimhanyalahmelaksanakanshalatdarimulaibalighhinggaakhirhayat.
Semuaperbedaanmengenaipraktiksholatbisadikatakanbenarsemua,
karenasemuatelahmemilikdasardanpendapatnyamasing-masing,
dantentunyaberdasarkanijtihad yang panjang.
Setiapperintah Allah yang diberikankepadahambanyapastimemilikihikmah,
sepertihalnyakitadiperintahuntuksholat,
salahsatuhikmahnyayaknisupayakitaselalumengingattuhannyadanbisamemintakarunianya.
Demikianmateri yang dapatsayasampaikantentangsholat,
semogabermanfaatbagikitabaik di duniamaupunakhirat.
B.
Saran
Kami menyadaribahwa kami
masihfaqirilmudantentunyabanyakkekurangandankesalahandalampenyusunanmakalahini.
Dari itu kami selalumenerimakritikdan saran yang membangundenganhati yang
terbuka. Denganharapandari saran-saran itulahkitabisamenjadilebikbaik.
Demikiandanterimakasih.
DAFTAR
PUSTAKA
FathulQarib
Al-Mujib fi syarhialfadzi At-Taqrib, Kitabu fi ahkamissholah
( Surabaya: Darul ‘Ilmi )
SyarahSullam
At-Taufiq,Fashlun fi Auqotissholah
( Surabaya: Darul ‘Ilmi )
FathulMu’in
bi syarhiqurrotulain, Babussholah
( Surabaya : Darul ‘Ilmi )
FathulWahhab
fi syarhiminhajitthulaab, Kitabussholah
( Surabaya : Darul ‘Ilmi )
Selasa, 19 September 2017
Mengenal Rukun Wudhu
Yang mewajibkan wudhu adalah adanya hadats di kala hendak melakukan shalat atau ibadah lain yang mewajibkan suci dari hadats seperti thawaf, menyentuh atau membawa Al-Qur’an, dan lain sebagainya.
Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya wudhu juga memiliki beberapa rukun atau kefardhu’an yang mesti dilakukan untuk mencapai keabsahannya. Dalam fikih madzhab Syafi’i ditetapkan ada enam hal yang menjadi rukun wudhu. Sebagaimana disebutkan Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami dalam kitabnya Safinatun Najâ.
فروض
الوضوء ستة: الأول النية الثاني غسل الوجه الثالث غسل اليدين مع المرفقين
الرايع مسح شيئ من الرأس الخامس غسل الرجلين مع الكعبين السادس الترتيب
Artinya, “Fardhu wudhu ada enam: (1) niat, (2) membasuh muka, (3) membasuh kedua tangan beserta kedua siku, (4) mengusap sebagian kepala, (5) membasuh kedua kaki beserta kedua mata kaki, dan (6) tertib,” (Lihat Salim bin Sumair Al-Hadhrami, Safînatun Najâ, Beirut, Darul Minhaj, 2009, halaman 18).
Keenam rukun tersebut dijelaskan oleh Syekh Nawawi Banten sebagai berikut.
1. Niat wudhu dilakukan secara berbarengan pada saat pertama kali membasuh bagian muka, baik yang pertama kali dibasuh itu bagian atas, tengah maupun bawah.
Bila orang yang berwudhu tidak memiliki suatu penyakit maka ia bisa berniat dengan salah satu dari tiga niat berikut:
a. Berniat menghilangkan hadats, bersuci dari hadats, atau bersuci untuk melakukan shalat.
b. Berniat untuk diperbolehkannya melakukan shalat atau ibadah lain yang tidak bisa dilakukan kecuali dalam keadaan suci.
c. Berniat melakukan fardhu wudhu, melakukan wudhu atau wudhu saja, meskipun yang berwudhu seorang anak kecil atau orang yang memperbarui wudhunya.
Orang yang dalam keadaan darurat seperti memiliki penyakit ayang-ayangen atau beser baginya tidak cukup berwudhu dengan niat menghilangkan hadats atau bersuci dari hadats. Baginya wudhu yang ia lakukan berfungsi untuk membolehkan dilakukannya shalat, bukan berfungsi untuk menghilangkan hadats.
Sedangkan orang yang memperbarui wudhunya tidak diperkenankan berwudhu dengan niat menghilangkan hadats, diperbolehkan melakukan shalat, atau bersuci dari hadats.
2. Membasuh muka
Sebagai batasan muka, panjangnya adalah antara tempat tumbuhnya rambut sampai dengan di bawah ujung kedua rahangnya. Sedangkan lebarnya adalah antara kedua telinganya. Termasuk muka adalah berbagai rambut yang tumbuh di dalamnya seperti alis, bulu mata, kumis, jenggot, dan godek. Rambut-rambut tersebut wajib dibasuh bagian luar dan dalamnya beserta kulit yang berada di bawahnya meskipun rambut tersebut tebal, karena termasuk bagian dari wajah. tetapi tidak wajib membasuh bagian dalam rambut yang tebal bila rambut tersebut keluar dari wilayah muka.
3. Membasuh kedua tangan beserta kedua sikunya.
Dianggap sebagai siku bila wujudnya ada meskipun di tempat yang tidak biasanya seperti bila tempat kedua siku tersebut bersambung dengan pundak.
4. Mengusap sebagian kecil kepala
Mengusap sebagian kecil kepala ini bisa hanya dengan sekadar mengusap sebagian rambut saja, dengan catatan rambut yang diusap tidak melebihi batas anggota badan yang disebut kepala. Seumpama seorang perempuan yang rambut belakangnya panjang sampai sepunggung tidak bisa hanya mengusap ujung rambut tersebut karena sudah berada di luar batas wilayah kepala. Dianggap cukup bila dalam mengusap kepala ini dengan cara membasuhnya, meneteskan air, atau meletakkan tangan yang basah di atas kepala tanpa menjalankannya.
5. Membasuh kedua kaki beserta kedua mata kaki
Dalam hal ini yang dibasuh adalah bagian telapak kaki beserta kedua mata kakinya. Tidak harus membasuh sampai ke betis atau lutut. Diwajibkan pula membasuh apa-apa yang ada pada anggota badan ini seperti rambut dan lainnya. Orang yang dipotong telapak kakinya maka wajib membasuh bagian yang tersisa. Sedangkan bila bagian yang dipotong di atas mata kaki maka tidak ada kewajiban membasuh baginya namun disunahkan membasuh anggota badan yang tersisa.
6. Tertib
Yang dimaksud dengan tertib di sini adalah melakukan kegiatan wudhu tersebut secara berurutan sebagaimana disebut di atas, yakni dimulai dengan membasuh muka, membasuh kedua tangan beserta kedua siku, mengusap sebagian kecil kepala, dan diakhiri dengan membasuh kedua kaki beserta kedua mata kaki.
Demikian Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami dan Syaikh Muhammad Nawawi Banten menjelaskan tentang rukun wudhu.
Di samping itu ada banyak perbuatan yang dianggap sebagai kesunahan dalam berwudhu. Di antaranya membaca basmalah, bersiwak atau gosok gigi, membasuk kedua tangan sebelum memasukkannya ke dalam tempatnya air, berkumur, menghirup air ke dalam hidung dan mengeluarkannya lagi, membasuh kedua telinga, mendahulukan anggota badan yang kanan, berturut-turut, dan lain sebagainya. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)
Jumat, 14 April 2017
UM-PTKIN 2017
UM-PTKIN
Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri
(Bantu Share Ke Teman Yang Membutuhkan)
Jadwal Pelaksanaan
Pendaftaran : 10 April - 10 Mei 2017
Ujian : 23 Mei 2017
Pengumuman : 19 Juni 2017
------------------------------
Biaya Pendaftaran
Biaya pendaftaran sebesar Rp. 200.000
------------------------------
Alur Pendaftaran
Calon peserta mendaftar dan mengisi biodata secara online di www.um-ptkin.ac.id hingga mendapat nomor SIP (Slip Instruksi Pembayaran), PIN dan informasi nominal yang harus dibayarkan serta tatacara pembayaran.
Calon peserta melakukan pembayaran di Bank BNI atau Selain BNI dengan ketentuan sebagai berikut :
Melalui Bank BNI / BNI Syariah, pembayaran dapat dilakukan di seluruh Kantor Cabang, ATM, SMS Banking (Aplikasi Android/IOS), Keagenan Bank BNI / BNI Syariah dengan menunjukkan / memasukkan nomor SIP.
Selain Bank BNI, pembayaran dapat dilakukan dengan cara transfer ke Virtual Account BNI melalui Kantor Pos atau Bank manapun di seluruh Indonesia yang mendukung transfer antar bank dengan menunjukkan nomor SIP sebagai nomor Virtual Account BNI anda. (ada tambahan biaya tergantung mitra).
Peserta mendapat bukti pembayaran. Biaya seleksi yang sudah dibayar tidak dapat ditarik kembali dengan alasan apapun.
Peserta melanjutkan pendaftaran online di www.um-ptkin.ac.id dengan memasukkan nomor SIP dan PIN untuk memilih kelompok ujian, program studi, lokasi ujian dan tipe ujian (CBT atau PBT) hingga cetak kartu ujian.
Mengikuti ujian CBT atau PBT di lokasi PTKIN yang telah dipilih.
(Bantu Share Ke Teman Yang Membutuhkan)
Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri
(Bantu Share Ke Teman Yang Membutuhkan)
Jadwal Pelaksanaan
Pendaftaran : 10 April - 10 Mei 2017
Ujian : 23 Mei 2017
Pengumuman : 19 Juni 2017
------------------------------
Biaya Pendaftaran
Biaya pendaftaran sebesar Rp. 200.000
------------------------------
Alur Pendaftaran
Calon peserta mendaftar dan mengisi biodata secara online di www.um-ptkin.ac.id hingga mendapat nomor SIP (Slip Instruksi Pembayaran), PIN dan informasi nominal yang harus dibayarkan serta tatacara pembayaran.
Calon peserta melakukan pembayaran di Bank BNI atau Selain BNI dengan ketentuan sebagai berikut :
Melalui Bank BNI / BNI Syariah, pembayaran dapat dilakukan di seluruh Kantor Cabang, ATM, SMS Banking (Aplikasi Android/IOS), Keagenan Bank BNI / BNI Syariah dengan menunjukkan / memasukkan nomor SIP.
Selain Bank BNI, pembayaran dapat dilakukan dengan cara transfer ke Virtual Account BNI melalui Kantor Pos atau Bank manapun di seluruh Indonesia yang mendukung transfer antar bank dengan menunjukkan nomor SIP sebagai nomor Virtual Account BNI anda. (ada tambahan biaya tergantung mitra).
Peserta mendapat bukti pembayaran. Biaya seleksi yang sudah dibayar tidak dapat ditarik kembali dengan alasan apapun.
Peserta melanjutkan pendaftaran online di www.um-ptkin.ac.id dengan memasukkan nomor SIP dan PIN untuk memilih kelompok ujian, program studi, lokasi ujian dan tipe ujian (CBT atau PBT) hingga cetak kartu ujian.
Mengikuti ujian CBT atau PBT di lokasi PTKIN yang telah dipilih.
(Bantu Share Ke Teman Yang Membutuhkan)
Ponpes Rohmatullah 2 Krajan
Pengasuh pesantren saat ini adalah K.Muhammad Nurul 'Ula dan dibantu oleh Ibu Nyai Khulyati dalam mengurus pesantren,
Program pendidikan Ponpes Rohmatullah 2 yaitu tahfidz Alqur'an dan madrasah kitab-kitab klasik. Sorogan Alqur'an biasanya di waktu pagi setelah sholat subuh dan malam setelah Sholat Isya' . Sedang madrasah kitab-kitab klasik di waktu sore setelah sholat Ashyar.Pesantren ini juga memberi keleluasaan pada santrinya untuk menyambi bersekolah yang tersedia di sekolah-sekolah di sekitar pesantren
Santri lulusan Pesantren Rohmatullah 2 diharapkan dapat menjadi generasi-generasi yang berakhlaqul karimah,berguna bagi orang tuang , agama dan negara . Dapat menjadi pilar-pilar kokohnya agama islam dengan haluan Ahlussunnah Wal Jamaah, dan dapat mengayomi masyarakatnya setelah pulang dari Pesantren.
Ayo Mondok , Pondokku Keren ...
Minggu, 05 Maret 2017
Raja Arab Saudi, Nahdlatul Ulama dan Islam Nusantara
Rabu, 01 Maret 2017 09:30
Opini
Oleh: M. Rikza Chamami
Hari
ini, Rabu 1 Maret 2017 menjadi sejarah baru harmoni dua negara
berpenduduk mayoritas Muslim, Indonesia-Arab Saudi. Kemesraan ini bukan
hal yang baru, mengingat memang selama ini dua negara sudah saling
bekerja sama.
Ada yang aneh dan di luar
kebiasaan kunjungan Kepala Negara lainnya. Kehadiran Raja Salman seakan
membuat heboh media karena membawa 1.500 rombongan dengan tujuh pesawat
dan perlengkapan serba mewah.
Wajar saja,
negara Petro Dollar itu memang sangat menghormati Rajanya dan ingin
memberikan yang terbaik ketika hadir kemanapun. Indonesia juga menyambut
dengan penuh kegembiraan.
Buktinya, titik
lokasi yang dikunjungi Raja Salman dari Istana Bogor, Gedung DPR/MPR,
Masjid Istiqlal, Hotel dan Bali sudah dipersiapkan secara khusus. Bahkan
kekuatan TNI dan Polri dikerahkan khusus dalam pengamanan Khadimul
Haramain ini.
Dalam keterangan resmi Duta Arab
Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi dijelaskan
bahwa Jokowi dan Raja Salman akan menandatangani 10 kerja sama. Di
antara kerja sama yang penulis singgung dalam tulisan singkat ini adalah
terkait kerjasama bidang agama dan keagamaan.
Jangan
sampai dengan janji-janji kerja sama bidang ekonomi dengan nilai
investasi USD 25 miliar atau sekitar Rp.333 triliun (kurs USD
Rp.13.350), problem keagamaan lenyap dari perhatian publik.
Tour
Raja Arab Saudi ke berbagai negara Asia memang baru menjadi sorotan
dunia. Apalagi kebijakan politik diskriminatif Donald Trump kepada Timur
Tengah baru-baru ini membuat Arab Saudi mulai berpikir mencari mitra
strategis.
Maka pilihan Arab Saudi berkomitmen
menjalin kemitraan dengan Indonesia, Malaysia, China dan Jepang bernilai
strategis. Oleh sebab itu, Indonesia harus mampu menangkap semua
peluang kemitraan dengan Arab Saudi.
Bagi Arab
Saudi sendiri, Indonesia pasti dianggap sangat istimewa karena
menyumbang jama'ah umroh dan haji yang sangat besar. Termasuk Indonesia
dianggap sebagai saudara karena memiliki tenaga kerja terbesar di tanah
suci itu.
*Kesan Positif*
Kesan
Indonesia yang bermadzhab Sunni dan Arab Saudi bermadzhab Wahabi bukan
satu-satunya pemisah bekerjasama. Sebab masyarakat Arab sendiri sangat
menghormati keanekaragaman madzhab dan bahkan menjalin kerja sama dengan
negara-negara sekuler.
Maka, jika selama ini
bantuan yang mengalir dari Arab Saudi ke Indonesia boleh dibilang salah
sasaran. Kenapa? Sebab bantuan itu justeru beralamat bagi "Islam
Ngamukan" dan "Islam Fentungan" yang tidak khas Indonesia.
Masyarakat
Indonesia yang toleran dijual dan dihasut anti Arab--oleh mereka.
Intinya agar bantuan itu diambil mereka sendiri. Alhasil, pola busuk itu
membuat suasana yang makin runcing.
Awal Maret
2017 menjadi momentum yang baik untuk Indonesia dalam mengenalkan Islam
Indonesia. Siapa? Nahdlatul Ulama sebagai wadah mayoritas muslim
Indonesia.
NU adalah pewaris Islam Arab yang
sudah mengindonesia, bukan mengindonesiakan Arab. Sehingga jika ingin
memahami Islam Indonesia perlu melihat NU sebagai organisasi terbesar
dengan sikapnya yang sangat Islami dan moderat.
Bahkan
NU mengajari untuk menghormat orang-orang Arab keturunan Nabi Muhammad
dengan sebutan Habib, Yek atau Sayyid. Rasa hormat warga NU pada
keturunan Arab juga diaktualisasikan dengan gelar acara rutin maulid
bersama para habaib.
NU menjadi satu-satunya
lembaga Islam yang sangat konsisten menggunakan kitab Arab dan ilmu
Arab. Kajian-kajian di Madrasah dan Pondok Pesantren hingga kini masih
mempertahankan kitab-kitab berbahasa Arab.
Maka,
jika menyebut NU sebagai sebuah jam'iyyah tidak akan lepas dari manhaj
Arab. Apalagi jika dirunut sanad keilmuan para pendiri NU, ilmu yang
diajarkan hingga kini berasal dari negeri Arab dan dari guru-guru Arab.
Oleh
sebab itu, kehadiran Raja Salman ke Indonesia menjadi sebuah momentum
baru bagi penataan agama dan keagamaan Islam khas Indonesia atau Islam
Nusantara.
Pemahaman komprehensif Arab Saudi
terhadap Islam Nusantara akan semakin memantapkan arah kerjasama
keagamaan. Sebab boleh dipastikan, peserta umroh, haji dan ziarah ke
Arab Saudi adalah warga NU. Termasuk para pelajar dan tenaga kerja di
Arab Saudi juga banyak dari NU. Sebab NU-lah yang memiliki kesadaran
menjalankan sunnah dan dekat dengan garis sanad ilmu Arab.
Jika
memang momentum ini dapat dibuka, maka akan ada warna kiblat keagamaan
yang bersifat pelangi, yaitu Pelangi Nusantara Arabia. Sebab kekhasan
Arab jika sudah menyatu dengan Indonesia akan tampak beda. Apalagi
kekhasan itu diracik oleh NU, pasti ada seni dan budaya yang begitu
indah.
Itulah ciri khas keNUan yang sejak awal
menjadikan Wali Songo sebagai kiblat Islam Nusantara. Dari para tokoh
Walisongo yang berasal dari keturunan bangsa Arab itu, NU berdiri dan
besar hingga saat ini. Menyebut orang NU anti-Arab, sama halnya dengan
menutup sejarah dan tidak paham sejarah.
Selamat berNU dan berArab.*)
Penulis adalah Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang
Sabtu, 31 Oktober 2015
NU Garus Lurus Bukan NU
Berkaitan dengan istilah NU garis lurus, maka penting rasanya kami
menyampaikan pandangan guru kami tercinta Habib
Luthfi bin Yahya yang beliau sampaikan di saat berbincang –
bincang dengan beberapa aktivis dan Generasi Muda NU ketika selesai
mengisi pengajian peresmian sebuah Masjid Raya
di kota Karawang beberapa waktu lalu.
Menurut Abah , panggilan akrab beliau, Istilah NU garis lurus sengaja dibuat oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab sebagai upaya PEMBUSUKAN NU DARI DALAM. Bahkan masih menurut beliau bahwa saat ini ada upaya – upaya sistematis yang dilakukan oleh orang – orang yang tak senang dengan NU untuk memecah belah barisan warga NU, menjauhkan warga NU dari Ulamanya dan mengadu domba antara Kyai NU dengan Habaib.
Pada kesempatan yang lain, abah juga pernah memberikan nasihat kepada warga NU agar senantiasa berjuang dan memperkokoh bangunan NU, serta tidak melihat individu tertentu dalam kepengurusan NU andaikata kita tidak suka dengan salah seorang pengurus NU.
Apa yang disampaikan abah, bukanlah isapan jempol belaka, sebab di beberapa daerah sudah mulai muncul ketegangan antara Kyai dengan beberapa Habib. Kita sebagai warga NU harus cerdas memahami masalah ini dan jangan malah masuk ke dalam pusaran arus yang justru bisa menyeret kita pada jurang perpecahan yang sengaja di pasang oleh orang – orang yang tak suka dengan keberadaan NU.
Mari rapatkan barisan, jalin kebersamaan, tingkatkan kewaspadaan dan lebih berhati – hati lagi dalam bersikap apalagi bertindak. Jangan pernah mau kita di adu domba dan di pecah belah oleh orang – orang yang tidak suka dengan kebesaran NU.
الله اكبر حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير
Menurut Abah , panggilan akrab beliau, Istilah NU garis lurus sengaja dibuat oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab sebagai upaya PEMBUSUKAN NU DARI DALAM. Bahkan masih menurut beliau bahwa saat ini ada upaya – upaya sistematis yang dilakukan oleh orang – orang yang tak senang dengan NU untuk memecah belah barisan warga NU, menjauhkan warga NU dari Ulamanya dan mengadu domba antara Kyai NU dengan Habaib.
Pada kesempatan yang lain, abah juga pernah memberikan nasihat kepada warga NU agar senantiasa berjuang dan memperkokoh bangunan NU, serta tidak melihat individu tertentu dalam kepengurusan NU andaikata kita tidak suka dengan salah seorang pengurus NU.
Apa yang disampaikan abah, bukanlah isapan jempol belaka, sebab di beberapa daerah sudah mulai muncul ketegangan antara Kyai dengan beberapa Habib. Kita sebagai warga NU harus cerdas memahami masalah ini dan jangan malah masuk ke dalam pusaran arus yang justru bisa menyeret kita pada jurang perpecahan yang sengaja di pasang oleh orang – orang yang tak suka dengan keberadaan NU.
Mari rapatkan barisan, jalin kebersamaan, tingkatkan kewaspadaan dan lebih berhati – hati lagi dalam bersikap apalagi bertindak. Jangan pernah mau kita di adu domba dan di pecah belah oleh orang – orang yang tidak suka dengan kebesaran NU.
الله اكبر حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير
Gus Zimam Hanif
Selasa, 26 Mei 2015
10 Hari Pulang dari Taiwan,TKW Asal Purwogondo Dibunuh
Rumah Sri HartatiBaru beberapa hari di rumah, Sri Hartati (43) ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya. Ada bekas pukulan benda tumpul di kepalanya. Belum diketahui siapa yang tega membunuh perempuan yang baru pulang dari Taiwan ini.Terbunuhnya Sri Hartati membuat geger Dusun Purwogondo, Desa Sumurarum, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Saksi, Slamet (41), mendengar teriakan suami korban, Musriani (45), pada pukul 02.30 WIB, Minggu (24/5/2015).Kemudian dia dan teman-temannya datangmengecek. “Suaminya teriak ‘bojoku, bojoku’ (istriku, istriku),” kata Slamet. Musriani pingsan. Sedangkan korban terbujur di ruang keluarga. Dari telinganya keluar darah.Slamet melapor ke perangkat desa setempat, lalu infonya sampai ke polisi. Diperoleh keterangan bahwa korban merupakan TKW sejak 3 tahun dan pulang dari Taiwan 10 hari lalu.Polisi telah melakukan olah TKP. Namun mereka belum memberikan keterangan secara rinci karena masih harus menyelidiki. Kapolsek Grabag AKP Ign Susana mengatakan korban diautopsi di RSUDSardjito Yogyakarta. “Suami korban kita amankan dan sedang kita periksa,” katanya.
Jumat, 27 Maret 2015
Meluruskan "NU Garis Lurus"
Oleh M. Alim Khoiri
--Menjelang muktamar ke-33 NU yang rencananya akan dilaksanakan di kota Jombang, 1-5 Agustur 2015, sudah banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dengan jargon “NKRI harga mati”, NU tak hanya dituntut untuk mampu mengawal keutuhan dan kesatuan negeri tercinta, tetapi juga harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kecil ‘rumah tangga’ yang jika terus menerus diabaikan justeru akan merusak kesatuan dan keutuhan internal NU.
‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU Garis Lurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan “NU Garis Lurus” ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said pun tak lepas dari serangan mereka.
Di dunia maya, “NU Garis Lurus” ini populer melalui media sosial facebook dan jejaring sosial twitter dengan nama akun “NU GARIS LURUS”. Mereka juga terkenal lewat situs pejuangislam.com yang diasuh oleh ust. Luthfi Bashori. Tak hanya mendaku sebagai pejuang Islam atau NU Garis Lurus, kelompok ini juga mengklaim sebagai etafet pemikiran dakwah Sunan Giri. Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham-faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU.
Paradigma “NU Garis Lurus” yang berusaha untuk ‘meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah. Jika kelompok “NU Garis Lurus” ini mengaku sebagai pewaris perjuangan dakwah Sunan Giri, maka mestinya mereka berkaca pada beliau dalam beberapa hal;
Pertama, sejarah mencatat bahwa, dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya sampai pada politik. Dalam bidang pendidikan misalnya, beliau tak segan mendatangi masyarakat secara langsung dan menyampaikan ajaran Islam. Setelah kondisi dianggap memungkinkan beliau mengumpulkannya melalui acara-acara seperti selametan atau yang lainnya, baru kemudian ajaran Islam disisipkan dengan bacaan-bacaan tahlil maupun dzikir. Dengan begitu, masyarakat melunak hingga pada akhirnya mereka memeluk Islam. Kanjeng Sunan Giri tidak mengenal metode dakwah dengan cara mencela atau bahkan menghina.
Kedua, dalam bidang budaya kanjeng Sunan Giri juga memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beliau juga dikenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana, Pucung, Cublak-cublak suweng dan Padhang bulan. Lalu tentu saja beliau masukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Itu semua dilakukan kanjeng Sunan demi tersebarnya ajaran Islam yang damai. Kanjeng Sunan -sekali lagi- tidak mengajarkan metode berdakwah dengan saling mencemooh atau menghujat mereka yang tak sependapat.
Ketiga, di bidang politik, kanjeng Sunan Giri dikenal sebagai seorang raja. Dalam menjalankan kekuasaannya, beliau tak pernah berlaku otoriter dan semaunya sendiri. Beliau selalu menggunakan cara-cara persuasif untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam. Beliau tidak mencontohkan strategi dakwah dengan cara mencaci maki mereka yang tidak sefaham.
Wa ba’du, Terlepas dari apakah “NU Garis Lurus” ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin ataukah sekedar ulah oknum yang tak bertanggung jawab, yang jelas supaya betul-betul lurus, “NU Garis Lurus” mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. “NU Garis Lurus” juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika “NU Garis Lurus” terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih mendaku sebagai kelompok “NU Garis Lurus”, yang ada mereka justeru menjadi “NU Garis Keras”. Wallahu a’lam.
M. Alim Khoiri, warga NU tinggal di Kediri
--Menjelang muktamar ke-33 NU yang rencananya akan dilaksanakan di kota Jombang, 1-5 Agustur 2015, sudah banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dengan jargon “NKRI harga mati”, NU tak hanya dituntut untuk mampu mengawal keutuhan dan kesatuan negeri tercinta, tetapi juga harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kecil ‘rumah tangga’ yang jika terus menerus diabaikan justeru akan merusak kesatuan dan keutuhan internal NU.
‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU Garis Lurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan “NU Garis Lurus” ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said pun tak lepas dari serangan mereka.
Di dunia maya, “NU Garis Lurus” ini populer melalui media sosial facebook dan jejaring sosial twitter dengan nama akun “NU GARIS LURUS”. Mereka juga terkenal lewat situs pejuangislam.com yang diasuh oleh ust. Luthfi Bashori. Tak hanya mendaku sebagai pejuang Islam atau NU Garis Lurus, kelompok ini juga mengklaim sebagai etafet pemikiran dakwah Sunan Giri. Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham-faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU.
Paradigma “NU Garis Lurus” yang berusaha untuk ‘meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah. Jika kelompok “NU Garis Lurus” ini mengaku sebagai pewaris perjuangan dakwah Sunan Giri, maka mestinya mereka berkaca pada beliau dalam beberapa hal;
Pertama, sejarah mencatat bahwa, dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya sampai pada politik. Dalam bidang pendidikan misalnya, beliau tak segan mendatangi masyarakat secara langsung dan menyampaikan ajaran Islam. Setelah kondisi dianggap memungkinkan beliau mengumpulkannya melalui acara-acara seperti selametan atau yang lainnya, baru kemudian ajaran Islam disisipkan dengan bacaan-bacaan tahlil maupun dzikir. Dengan begitu, masyarakat melunak hingga pada akhirnya mereka memeluk Islam. Kanjeng Sunan Giri tidak mengenal metode dakwah dengan cara mencela atau bahkan menghina.
Kedua, dalam bidang budaya kanjeng Sunan Giri juga memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beliau juga dikenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana, Pucung, Cublak-cublak suweng dan Padhang bulan. Lalu tentu saja beliau masukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Itu semua dilakukan kanjeng Sunan demi tersebarnya ajaran Islam yang damai. Kanjeng Sunan -sekali lagi- tidak mengajarkan metode berdakwah dengan saling mencemooh atau menghujat mereka yang tak sependapat.
Ketiga, di bidang politik, kanjeng Sunan Giri dikenal sebagai seorang raja. Dalam menjalankan kekuasaannya, beliau tak pernah berlaku otoriter dan semaunya sendiri. Beliau selalu menggunakan cara-cara persuasif untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam. Beliau tidak mencontohkan strategi dakwah dengan cara mencaci maki mereka yang tidak sefaham.
Wa ba’du, Terlepas dari apakah “NU Garis Lurus” ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin ataukah sekedar ulah oknum yang tak bertanggung jawab, yang jelas supaya betul-betul lurus, “NU Garis Lurus” mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. “NU Garis Lurus” juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika “NU Garis Lurus” terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih mendaku sebagai kelompok “NU Garis Lurus”, yang ada mereka justeru menjadi “NU Garis Keras”. Wallahu a’lam.
M. Alim Khoiri, warga NU tinggal di Kediri
Langganan:
Postingan (Atom)






