Tulisan Berjalan

Sudah Saatnya Pemuda NU Bergerak Dengan Teknologi,Bersama "rojulutsalits" Kita Sebarkan Islam Yang Rahmatan lil'alamin
Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

Jumat, 14 April 2017

UM-PTKIN 2017

UM-PTKIN
Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri
(Bantu Share Ke Teman Yang Membutuhkan)
Jadwal Pelaksanaan
Pendaftaran : 10 April - 10 Mei 2017
Ujian : 23 Mei 2017
Pengumuman : 19 Juni 2017
------------------------------
Biaya Pendaftaran
Biaya pendaftaran sebesar Rp. 200.000
------------------------------
Alur Pendaftaran
Calon peserta mendaftar dan mengisi biodata secara online di www.um-ptkin.ac.id hingga mendapat nomor SIP (Slip Instruksi Pembayaran), PIN dan informasi nominal yang harus dibayarkan serta tatacara pembayaran.
Calon peserta melakukan pembayaran di Bank BNI atau Selain BNI dengan ketentuan sebagai berikut :
Melalui Bank BNI / BNI Syariah, pembayaran dapat dilakukan di seluruh Kantor Cabang, ATM, SMS Banking (Aplikasi Android/IOS), Keagenan Bank BNI / BNI Syariah dengan menunjukkan / memasukkan nomor SIP.
Selain Bank BNI, pembayaran dapat dilakukan dengan cara transfer ke Virtual Account BNI melalui Kantor Pos atau Bank manapun di seluruh Indonesia yang mendukung transfer antar bank dengan menunjukkan nomor SIP sebagai nomor Virtual Account BNI anda. (ada tambahan biaya tergantung mitra).
Peserta mendapat bukti pembayaran. Biaya seleksi yang sudah dibayar tidak dapat ditarik kembali dengan alasan apapun.
Peserta melanjutkan pendaftaran online di www.um-ptkin.ac.id dengan memasukkan nomor SIP dan PIN untuk memilih kelompok ujian, program studi, lokasi ujian dan tipe ujian (CBT atau PBT) hingga cetak kartu ujian.
Mengikuti ujian CBT atau PBT di lokasi PTKIN yang telah dipilih.
(Bantu Share Ke Teman Yang Membutuhkan)

Ponpes Rohmatullah 2 Krajan



 Pondok Pesantren Rohmatullah 2 , merupakan pondok unit dari Pesantren Rohmatullah Cokro. Ponpes Rohmatullah 2 terletak di Krajan 2 Grabag Magelang,atau dari Jalan Grabag-Magelang,masuk jalan Candi Umbul, kemudian masuk pertigaan kurang lebih 200 m . Pesantren yang berada di bawah rerimbunan pohon bambu ini membuat santr-santri semakin nyaman dalam belajar,karena sejuknya udara di pesantren tersebut.
Pengasuh pesantren saat ini adalah K.Muhammad Nurul 'Ula dan dibantu oleh Ibu Nyai Khulyati dalam mengurus pesantren,

          Program pendidikan Ponpes Rohmatullah 2 yaitu tahfidz Alqur'an dan madrasah kitab-kitab klasik. Sorogan Alqur'an biasanya di waktu pagi setelah sholat subuh dan malam setelah Sholat Isya' . Sedang madrasah kitab-kitab klasik di waktu sore setelah sholat Ashyar.Pesantren ini juga memberi keleluasaan pada santrinya untuk menyambi bersekolah yang tersedia di sekolah-sekolah di sekitar pesantren

          Santri lulusan Pesantren Rohmatullah 2 diharapkan dapat menjadi generasi-generasi yang berakhlaqul karimah,berguna bagi orang tuang , agama dan negara . Dapat menjadi pilar-pilar kokohnya agama islam dengan haluan Ahlussunnah Wal Jamaah, dan dapat mengayomi masyarakatnya setelah pulang dari Pesantren.

Ayo Mondok , Pondokku Keren ...


Ahmad Ya Habibi

Ponpes Rohmatullah 2 dalam rangka selapanan Muslimat NU Grabag

Minggu, 05 Maret 2017

Raja Arab Saudi, Nahdlatul Ulama dan Islam Nusantara

Rabu, 01 Maret 2017 09:30 Opini
 Image result for raja salman
Oleh: M. Rikza Chamami

Hari ini, Rabu 1 Maret 2017 menjadi sejarah baru harmoni dua negara berpenduduk mayoritas Muslim, Indonesia-Arab Saudi. Kemesraan ini bukan hal yang baru, mengingat memang selama ini dua negara sudah saling bekerja sama.

Ada yang aneh dan di luar kebiasaan kunjungan Kepala Negara lainnya. Kehadiran Raja Salman seakan membuat heboh media karena membawa 1.500 rombongan dengan tujuh pesawat dan perlengkapan serba mewah.

Wajar saja, negara Petro Dollar itu memang sangat menghormati Rajanya dan ingin memberikan yang terbaik ketika hadir kemanapun. Indonesia juga menyambut dengan penuh kegembiraan.

Buktinya, titik lokasi yang dikunjungi Raja Salman dari Istana Bogor, Gedung DPR/MPR, Masjid Istiqlal, Hotel dan Bali sudah dipersiapkan secara khusus. Bahkan kekuatan TNI dan Polri dikerahkan khusus dalam pengamanan Khadimul Haramain ini.

Dalam keterangan resmi Duta Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi dijelaskan bahwa Jokowi dan Raja Salman akan menandatangani 10 kerja sama. Di antara kerja sama yang penulis singgung dalam tulisan singkat ini adalah terkait kerjasama bidang agama dan keagamaan.

Jangan sampai dengan janji-janji kerja sama bidang ekonomi dengan nilai investasi USD 25 miliar atau sekitar Rp.333 triliun (kurs USD Rp.13.350), problem keagamaan lenyap dari perhatian publik.

Tour Raja Arab Saudi ke berbagai negara Asia memang baru menjadi sorotan dunia. Apalagi kebijakan politik diskriminatif Donald Trump kepada Timur Tengah baru-baru ini membuat Arab Saudi mulai berpikir mencari mitra strategis.

Maka pilihan Arab Saudi berkomitmen menjalin kemitraan dengan Indonesia, Malaysia, China dan Jepang bernilai strategis. Oleh sebab itu, Indonesia harus mampu menangkap semua peluang kemitraan dengan Arab Saudi.

Bagi Arab Saudi sendiri, Indonesia pasti dianggap sangat istimewa karena menyumbang jama'ah umroh dan haji yang sangat besar. Termasuk Indonesia dianggap sebagai saudara karena memiliki tenaga kerja terbesar di tanah suci itu.

*Kesan Positif*

Kesan Indonesia yang bermadzhab Sunni dan Arab Saudi bermadzhab Wahabi bukan satu-satunya pemisah bekerjasama. Sebab masyarakat Arab sendiri sangat menghormati keanekaragaman madzhab dan bahkan menjalin kerja sama dengan negara-negara sekuler.

Maka, jika selama ini bantuan yang mengalir dari Arab Saudi ke Indonesia boleh dibilang salah sasaran. Kenapa? Sebab bantuan itu justeru beralamat bagi "Islam Ngamukan" dan "Islam Fentungan" yang tidak khas Indonesia.

Masyarakat Indonesia yang toleran dijual dan dihasut anti Arab--oleh mereka. Intinya agar bantuan itu diambil mereka sendiri. Alhasil, pola busuk itu membuat suasana yang makin runcing.

Awal Maret 2017 menjadi momentum yang baik untuk Indonesia dalam mengenalkan Islam Indonesia. Siapa? Nahdlatul Ulama sebagai wadah mayoritas muslim Indonesia.

NU adalah pewaris Islam Arab yang sudah mengindonesia, bukan mengindonesiakan Arab. Sehingga jika ingin memahami Islam Indonesia perlu melihat NU sebagai organisasi terbesar dengan sikapnya yang sangat Islami dan moderat.

Bahkan NU mengajari untuk menghormat orang-orang Arab keturunan Nabi Muhammad dengan sebutan Habib, Yek atau Sayyid. Rasa hormat warga NU pada keturunan Arab juga diaktualisasikan dengan gelar acara rutin maulid bersama para habaib.

NU menjadi satu-satunya lembaga Islam yang sangat konsisten menggunakan kitab Arab dan ilmu Arab. Kajian-kajian di Madrasah dan Pondok Pesantren hingga kini masih mempertahankan kitab-kitab berbahasa Arab.

Maka, jika menyebut NU sebagai sebuah jam'iyyah tidak akan lepas dari manhaj Arab. Apalagi jika dirunut sanad keilmuan para pendiri NU, ilmu yang diajarkan hingga kini berasal dari negeri Arab dan dari guru-guru Arab.

Oleh sebab itu, kehadiran Raja Salman ke Indonesia menjadi sebuah momentum baru bagi penataan agama dan keagamaan Islam khas Indonesia atau Islam Nusantara.

Pemahaman komprehensif Arab Saudi terhadap Islam Nusantara akan semakin memantapkan arah kerjasama keagamaan. Sebab boleh dipastikan, peserta umroh, haji dan ziarah ke Arab Saudi adalah warga NU. Termasuk para pelajar dan tenaga kerja di Arab Saudi juga banyak dari NU. Sebab NU-lah yang memiliki kesadaran menjalankan sunnah dan dekat dengan garis sanad ilmu Arab.

Jika memang momentum ini dapat dibuka, maka akan ada warna kiblat keagamaan yang bersifat pelangi, yaitu Pelangi Nusantara Arabia. Sebab kekhasan Arab jika sudah menyatu dengan Indonesia akan tampak beda. Apalagi kekhasan itu diracik oleh NU, pasti ada seni dan budaya yang begitu indah.

Itulah ciri khas keNUan yang sejak awal menjadikan Wali Songo sebagai kiblat Islam Nusantara. Dari para tokoh Walisongo yang berasal dari keturunan bangsa Arab itu, NU berdiri dan besar hingga saat ini. Menyebut orang NU anti-Arab, sama halnya dengan menutup sejarah dan tidak paham sejarah.

Selamat berNU dan berArab.*)

Penulis adalah Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

Sabtu, 31 Oktober 2015

NU Garus Lurus Bukan NU

      Berkaitan dengan istilah NU garis lurus, maka penting rasanya kami menyampaikan pandangan guru kami tercinta Habib Luthfi bin Yahya yang beliau sampaikan di saat berbincang – bincang dengan beberapa aktivis dan Generasi Muda NU ketika selesai mengisi pengajian peresmian sebuah Masjid Raya di kota Karawang beberapa waktu lalu.
Menurut Abah , panggilan akrab beliau, Istilah NU garis lurus sengaja dibuat oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab sebagai upaya PEMBUSUKAN NU DARI DALAM. Bahkan masih menurut beliau bahwa saat ini ada upaya – upaya sistematis yang dilakukan oleh orang – orang yang tak senang dengan NU untuk memecah belah barisan warga NU, menjauhkan warga NU dari Ulamanya dan mengadu domba antara Kyai NU dengan Habaib.
Pada kesempatan yang lain, abah juga pernah memberikan nasihat kepada warga NU agar senantiasa berjuang dan memperkokoh bangunan NU, serta tidak melihat individu tertentu dalam kepengurusan NU andaikata kita tidak suka dengan salah seorang pengurus NU.
Apa yang disampaikan abah, bukanlah isapan jempol belaka, sebab di beberapa daerah sudah mulai muncul ketegangan antara Kyai dengan beberapa Habib. Kita sebagai warga NU harus cerdas memahami masalah ini dan jangan malah masuk ke dalam pusaran arus yang justru bisa menyeret kita pada jurang perpecahan yang sengaja di pasang oleh orang – orang yang tak suka dengan keberadaan NU.
Mari rapatkan barisan, jalin kebersamaan, tingkatkan kewaspadaan dan lebih berhati – hati lagi dalam bersikap apalagi bertindak. Jangan pernah mau kita di adu domba dan di pecah belah oleh orang – orang yang tidak suka dengan kebesaran NU.
الله اكبر حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير
Gus Zimam Hanif

Selasa, 26 Mei 2015

10 Hari Pulang dari Taiwan,TKW Asal Purwogondo Dibunuh

Rumah Sri HartatiBaru beberapa hari di rumah, Sri Hartati (43) ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya. Ada bekas pukulan benda tumpul di kepalanya. Belum diketahui siapa yang tega membunuh perempuan yang baru pulang dari Taiwan ini.Terbunuhnya Sri Hartati membuat geger Dusun Purwogondo, Desa Sumurarum, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Saksi, Slamet (41), mendengar teriakan suami korban, Musriani (45), pada pukul 02.30 WIB, Minggu (24/5/2015).Kemudian dia dan teman-temannya datangmengecek. “Suaminya teriak ‘bojoku, bojoku’ (istriku, istriku),” kata Slamet. Musriani pingsan. Sedangkan korban terbujur di ruang keluarga. Dari telinganya keluar darah.Slamet melapor ke perangkat desa setempat, lalu infonya sampai ke polisi. Diperoleh keterangan bahwa korban merupakan TKW sejak 3 tahun dan pulang dari Taiwan 10 hari lalu.Polisi telah melakukan olah TKP. Namun mereka belum memberikan keterangan secara rinci karena masih harus menyelidiki. Kapolsek Grabag AKP Ign Susana mengatakan korban diautopsi di RSUDSardjito Yogyakarta. “Suami korban kita amankan dan sedang kita periksa,” katanya.

Jumat, 27 Maret 2015

Meluruskan "NU Garis Lurus"


Jumat, 27/03/2015 10:35
Meluruskan “NU Garis Lurus”
Oleh M. Alim Khoiri
--Menjelang muktamar ke-33 NU yang rencananya akan dilaksanakan di kota Jombang, 1-5 Agustur 2015, sudah banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dengan jargon “NKRI harga mati”, NU tak hanya dituntut untuk mampu mengawal keutuhan dan kesatuan negeri tercinta, tetapi juga harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kecil ‘rumah tangga’ yang jika terus menerus diabaikan justeru akan merusak kesatuan dan keutuhan internal NU.
‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU Garis Lurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan “NU Garis Lurus” ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said pun tak lepas dari serangan mereka.
Di dunia maya, “NU Garis Lurus” ini populer melalui media sosial facebook dan jejaring sosial twitter dengan nama akun “NU GARIS LURUS”. Mereka juga terkenal lewat situs pejuangislam.com yang diasuh oleh ust. Luthfi Bashori. Tak hanya mendaku sebagai pejuang Islam atau NU Garis Lurus, kelompok ini juga mengklaim sebagai etafet pemikiran dakwah Sunan Giri. Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham-faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU.
Paradigma “NU Garis Lurus” yang berusaha untuk ‘meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah. Jika kelompok “NU Garis Lurus” ini mengaku sebagai pewaris perjuangan dakwah Sunan Giri, maka mestinya mereka berkaca pada beliau dalam beberapa hal;
Pertama, sejarah mencatat bahwa, dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya sampai pada politik. Dalam bidang pendidikan misalnya, beliau tak segan mendatangi masyarakat secara langsung dan menyampaikan ajaran Islam. Setelah kondisi dianggap memungkinkan beliau mengumpulkannya melalui acara-acara seperti selametan atau yang lainnya, baru kemudian ajaran Islam disisipkan dengan bacaan-bacaan tahlil maupun dzikir. Dengan begitu, masyarakat melunak hingga pada akhirnya mereka memeluk Islam. Kanjeng Sunan Giri tidak mengenal metode dakwah dengan cara mencela atau bahkan menghina.
Kedua, dalam bidang budaya kanjeng Sunan Giri juga memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beliau juga dikenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana, Pucung, Cublak-cublak suweng dan Padhang bulan. Lalu tentu saja beliau masukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Itu semua dilakukan kanjeng Sunan demi tersebarnya ajaran Islam yang damai. Kanjeng Sunan -sekali lagi- tidak mengajarkan metode berdakwah dengan saling mencemooh atau menghujat mereka yang tak sependapat.
Ketiga, di bidang politik, kanjeng Sunan Giri dikenal sebagai seorang raja. Dalam menjalankan kekuasaannya, beliau tak pernah berlaku otoriter dan semaunya sendiri. Beliau selalu menggunakan cara-cara persuasif untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam. Beliau tidak mencontohkan strategi dakwah dengan cara mencaci maki mereka yang tidak sefaham.
Wa ba’du, Terlepas dari apakah “NU Garis Lurus” ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin ataukah sekedar ulah oknum yang tak bertanggung jawab, yang jelas supaya betul-betul lurus, “NU Garis Lurus” mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. “NU Garis Lurus” juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika “NU Garis Lurus” terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih mendaku sebagai kelompok “NU Garis Lurus”, yang ada mereka justeru menjadi “NU Garis Keras”. Wallahu a’lam.
M. Alim Khoiri, warga NU tinggal di Kediri