Rumah Sri HartatiBaru beberapa hari di rumah, Sri Hartati (43) ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya. Ada bekas pukulan benda tumpul di kepalanya. Belum diketahui siapa yang tega membunuh perempuan yang baru pulang dari Taiwan ini.Terbunuhnya Sri Hartati membuat geger Dusun Purwogondo, Desa Sumurarum, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Saksi, Slamet (41), mendengar teriakan suami korban, Musriani (45), pada pukul 02.30 WIB, Minggu (24/5/2015).Kemudian dia dan teman-temannya datangmengecek. “Suaminya teriak ‘bojoku, bojoku’ (istriku, istriku),” kata Slamet. Musriani pingsan. Sedangkan korban terbujur di ruang keluarga. Dari telinganya keluar darah.Slamet melapor ke perangkat desa setempat, lalu infonya sampai ke polisi. Diperoleh keterangan bahwa korban merupakan TKW sejak 3 tahun dan pulang dari Taiwan 10 hari lalu.Polisi telah melakukan olah TKP. Namun mereka belum memberikan keterangan secara rinci karena masih harus menyelidiki. Kapolsek Grabag AKP Ign Susana mengatakan korban diautopsi di RSUDSardjito Yogyakarta. “Suami korban kita amankan dan sedang kita periksa,” katanya.
Selasa, 26 Mei 2015
Jumat, 27 Maret 2015
Meluruskan "NU Garis Lurus"
Oleh M. Alim Khoiri
--Menjelang muktamar ke-33 NU yang rencananya akan dilaksanakan di kota Jombang, 1-5 Agustur 2015, sudah banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dengan jargon “NKRI harga mati”, NU tak hanya dituntut untuk mampu mengawal keutuhan dan kesatuan negeri tercinta, tetapi juga harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kecil ‘rumah tangga’ yang jika terus menerus diabaikan justeru akan merusak kesatuan dan keutuhan internal NU.
‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU Garis Lurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan “NU Garis Lurus” ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said pun tak lepas dari serangan mereka.
Di dunia maya, “NU Garis Lurus” ini populer melalui media sosial facebook dan jejaring sosial twitter dengan nama akun “NU GARIS LURUS”. Mereka juga terkenal lewat situs pejuangislam.com yang diasuh oleh ust. Luthfi Bashori. Tak hanya mendaku sebagai pejuang Islam atau NU Garis Lurus, kelompok ini juga mengklaim sebagai etafet pemikiran dakwah Sunan Giri. Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham-faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU.
Paradigma “NU Garis Lurus” yang berusaha untuk ‘meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah. Jika kelompok “NU Garis Lurus” ini mengaku sebagai pewaris perjuangan dakwah Sunan Giri, maka mestinya mereka berkaca pada beliau dalam beberapa hal;
Pertama, sejarah mencatat bahwa, dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya sampai pada politik. Dalam bidang pendidikan misalnya, beliau tak segan mendatangi masyarakat secara langsung dan menyampaikan ajaran Islam. Setelah kondisi dianggap memungkinkan beliau mengumpulkannya melalui acara-acara seperti selametan atau yang lainnya, baru kemudian ajaran Islam disisipkan dengan bacaan-bacaan tahlil maupun dzikir. Dengan begitu, masyarakat melunak hingga pada akhirnya mereka memeluk Islam. Kanjeng Sunan Giri tidak mengenal metode dakwah dengan cara mencela atau bahkan menghina.
Kedua, dalam bidang budaya kanjeng Sunan Giri juga memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beliau juga dikenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana, Pucung, Cublak-cublak suweng dan Padhang bulan. Lalu tentu saja beliau masukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Itu semua dilakukan kanjeng Sunan demi tersebarnya ajaran Islam yang damai. Kanjeng Sunan -sekali lagi- tidak mengajarkan metode berdakwah dengan saling mencemooh atau menghujat mereka yang tak sependapat.
Ketiga, di bidang politik, kanjeng Sunan Giri dikenal sebagai seorang raja. Dalam menjalankan kekuasaannya, beliau tak pernah berlaku otoriter dan semaunya sendiri. Beliau selalu menggunakan cara-cara persuasif untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam. Beliau tidak mencontohkan strategi dakwah dengan cara mencaci maki mereka yang tidak sefaham.
Wa ba’du, Terlepas dari apakah “NU Garis Lurus” ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin ataukah sekedar ulah oknum yang tak bertanggung jawab, yang jelas supaya betul-betul lurus, “NU Garis Lurus” mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. “NU Garis Lurus” juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika “NU Garis Lurus” terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih mendaku sebagai kelompok “NU Garis Lurus”, yang ada mereka justeru menjadi “NU Garis Keras”. Wallahu a’lam.
M. Alim Khoiri, warga NU tinggal di Kediri
--Menjelang muktamar ke-33 NU yang rencananya akan dilaksanakan di kota Jombang, 1-5 Agustur 2015, sudah banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dengan jargon “NKRI harga mati”, NU tak hanya dituntut untuk mampu mengawal keutuhan dan kesatuan negeri tercinta, tetapi juga harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kecil ‘rumah tangga’ yang jika terus menerus diabaikan justeru akan merusak kesatuan dan keutuhan internal NU.
‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU Garis Lurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan “NU Garis Lurus” ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said pun tak lepas dari serangan mereka.
Di dunia maya, “NU Garis Lurus” ini populer melalui media sosial facebook dan jejaring sosial twitter dengan nama akun “NU GARIS LURUS”. Mereka juga terkenal lewat situs pejuangislam.com yang diasuh oleh ust. Luthfi Bashori. Tak hanya mendaku sebagai pejuang Islam atau NU Garis Lurus, kelompok ini juga mengklaim sebagai etafet pemikiran dakwah Sunan Giri. Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham-faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU.
Paradigma “NU Garis Lurus” yang berusaha untuk ‘meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah. Jika kelompok “NU Garis Lurus” ini mengaku sebagai pewaris perjuangan dakwah Sunan Giri, maka mestinya mereka berkaca pada beliau dalam beberapa hal;
Pertama, sejarah mencatat bahwa, dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya sampai pada politik. Dalam bidang pendidikan misalnya, beliau tak segan mendatangi masyarakat secara langsung dan menyampaikan ajaran Islam. Setelah kondisi dianggap memungkinkan beliau mengumpulkannya melalui acara-acara seperti selametan atau yang lainnya, baru kemudian ajaran Islam disisipkan dengan bacaan-bacaan tahlil maupun dzikir. Dengan begitu, masyarakat melunak hingga pada akhirnya mereka memeluk Islam. Kanjeng Sunan Giri tidak mengenal metode dakwah dengan cara mencela atau bahkan menghina.
Kedua, dalam bidang budaya kanjeng Sunan Giri juga memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beliau juga dikenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana, Pucung, Cublak-cublak suweng dan Padhang bulan. Lalu tentu saja beliau masukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Itu semua dilakukan kanjeng Sunan demi tersebarnya ajaran Islam yang damai. Kanjeng Sunan -sekali lagi- tidak mengajarkan metode berdakwah dengan saling mencemooh atau menghujat mereka yang tak sependapat.
Ketiga, di bidang politik, kanjeng Sunan Giri dikenal sebagai seorang raja. Dalam menjalankan kekuasaannya, beliau tak pernah berlaku otoriter dan semaunya sendiri. Beliau selalu menggunakan cara-cara persuasif untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam. Beliau tidak mencontohkan strategi dakwah dengan cara mencaci maki mereka yang tidak sefaham.
Wa ba’du, Terlepas dari apakah “NU Garis Lurus” ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin ataukah sekedar ulah oknum yang tak bertanggung jawab, yang jelas supaya betul-betul lurus, “NU Garis Lurus” mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. “NU Garis Lurus” juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika “NU Garis Lurus” terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih mendaku sebagai kelompok “NU Garis Lurus”, yang ada mereka justeru menjadi “NU Garis Keras”. Wallahu a’lam.
M. Alim Khoiri, warga NU tinggal di Kediri
Sabtu, 29 November 2014
Kaget Petir diwaktu Sholat
Waktu hujan telah tiba, geluduk dan geledek sering menyambar tak terduga. Membuat kaget mereka yang tidak siap mendengarnya. Kaget itu menyebabkan seseorang lupa. Lupa tentang apa yang dilakukan dan dipikirkannya. Lalu bagaimanakah jika datang geledek sedangkan kita lagi shalat? Pastilah geledek tetap saja berbunyi walaupun kita shalat. Masalahnya apakah shalat kita tidak batal karena kaget yang mendadak bahkan juga sampai melupakan bacaan bahkan juga tindakan dalam shalat kita?
Kaget tidak termasuk dalam perkara yang dapat membatalkan shalat, apapun sebabnya. Hanya saja keraguan mengenai bacaan dan tindakan shalat yang dikarenakan kaget mendadak hendaknya diulang saja seingatnya. Misalkan apakah ayat ‘hdinash shirthal mustaqim’ sudah dibaca atau belum, hendaknya dalam kasus ini diulang saja. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Fathul Muin
واستأنف وجوبا ان شك فيه قبله أى التمام كما لوشك هل قرأها اولا لأن الأصل عدم قرائتها وكالفاتحة فى ذلك سائر الاركان
Dan wajiblah seseorang memulai lagi membaca fatihah jika ia ragu sebelum sempurna bacaannya. Sebagaimana dia ragu apakah sudah dibacanya fatihah atau belum. Karena pada hakikatnya yang asal adalah belum membaca. Demikian juga denagn rukun-rukun yang lain. (Ulil H)
Kang Anwar
Dapatkah Manusia Melihat Malaikat
Diantara salah satu hal yang harus diimani seorang mukmin adalah keberadaan malaikat yang memiliki berbagai tugas dari Allah swt. Baik yang berhubungan langsung dengan manusia ataupun dengan makhluk lain.
Dalam kitabnya Al-Jawahir al-Kalamiyyah, Syaikh Thahir bin Shalih al-Jazairi menerangkan bahwa malaikat adalah :
هم أجسام لطيفة مخلوقة من نور لايأكلون ولايشربون وهم عباد مكرمون لايعصون الله ما أمرهم ويفعلون مايؤمرون
Makhluk Allah swt yang tercipta dari cahaya dalam bentuk jisim halus, malaikat tidak makan dan tidak minum. Mereka adalah makhluk mulia yang taat kepada Allah dan tidak pernah melanggar apa yang diperintahkannya.
Sesama makhluk yang diciptakan oleh Allah swt, wajar saja jika manusia ingin mengetahui makhluk yang diceritakan penuh kemuliaan, makhluk yang pernah mengawal dan selalu setia menemani Rasulullah saw baik dalam suka maupun duka. Pertanyaannya kemudian mungkinkah manusia dapat berjumpa dengan malaikat? Mengenai hal ini syaikh Thahir al-Jazairi melanjutkan keterangannya bahwa:
لايرى البشر غير الأنبياء الملائكة اذا كانوا على صورهم الاصلية لانهم اجسام لطيفة كما انهم لايرون الهواء مع كونه جسما مالئا للفضاء لكونه لطيفا واما اذا تشكلوا بصورة جسم كثيف كالانسان فيرونهم ورؤية الانبياء لهم على صورهم الاصلية خصوصية خصوا بها لتلقى المسائل الدينية والاحكام الشرعية
Manusia tidak bisa melihat bentuk asli malaikat kecuali para nabi. Karena, sebagaimana diterangkan di atas malaikat tercipta dari jisim halus (jismin lathifin) seperti udara di dalam ruangan yang tidak dapat dilihat dengan mata (tetapi bisa dirasa kehadirannya). Namun apabila malaikat mewujudkan dirinya dalam bentuk raga kasar (jismin katsifin) sebagaimana manusia maka semua orang bisa melihatnya. Adapun kemampuan para nabi melihat malaikat dalam bentuknya yang asli (jisim halus) tidak lain merupakan kekhusushan yang diberikan Allah swt kepada mereka guna menyelesaikan berbagai masalah keagamaan dan hukum-hukum syariah.
Keterangan di atas sesuai dengan pengalaman Rasulullah saw ketika menerima wahyu dari Malaikat Jibril. Maka terjadilah komunikasi antar keduanya baik dalam penjelmaannya dalam bentuk manusia biasa maupun dalam bentuknya sebagai malaikat yang asli (jisim halus). Khusus untuk komunikasi bentuk terakhir ini Rasulullah saw harus berusaha memindhakan dirinya dari alam lahiriah yang kasar ini ke alam spiritual. Karena komunikasi hanya akan terjadi ketika kedua komunikator dalam frekwensi yang sama. (ulil H)
Dalam kitabnya Al-Jawahir al-Kalamiyyah, Syaikh Thahir bin Shalih al-Jazairi menerangkan bahwa malaikat adalah :
هم أجسام لطيفة مخلوقة من نور لايأكلون ولايشربون وهم عباد مكرمون لايعصون الله ما أمرهم ويفعلون مايؤمرون
Makhluk Allah swt yang tercipta dari cahaya dalam bentuk jisim halus, malaikat tidak makan dan tidak minum. Mereka adalah makhluk mulia yang taat kepada Allah dan tidak pernah melanggar apa yang diperintahkannya.
Sesama makhluk yang diciptakan oleh Allah swt, wajar saja jika manusia ingin mengetahui makhluk yang diceritakan penuh kemuliaan, makhluk yang pernah mengawal dan selalu setia menemani Rasulullah saw baik dalam suka maupun duka. Pertanyaannya kemudian mungkinkah manusia dapat berjumpa dengan malaikat? Mengenai hal ini syaikh Thahir al-Jazairi melanjutkan keterangannya bahwa:
لايرى البشر غير الأنبياء الملائكة اذا كانوا على صورهم الاصلية لانهم اجسام لطيفة كما انهم لايرون الهواء مع كونه جسما مالئا للفضاء لكونه لطيفا واما اذا تشكلوا بصورة جسم كثيف كالانسان فيرونهم ورؤية الانبياء لهم على صورهم الاصلية خصوصية خصوا بها لتلقى المسائل الدينية والاحكام الشرعية
Manusia tidak bisa melihat bentuk asli malaikat kecuali para nabi. Karena, sebagaimana diterangkan di atas malaikat tercipta dari jisim halus (jismin lathifin) seperti udara di dalam ruangan yang tidak dapat dilihat dengan mata (tetapi bisa dirasa kehadirannya). Namun apabila malaikat mewujudkan dirinya dalam bentuk raga kasar (jismin katsifin) sebagaimana manusia maka semua orang bisa melihatnya. Adapun kemampuan para nabi melihat malaikat dalam bentuknya yang asli (jisim halus) tidak lain merupakan kekhusushan yang diberikan Allah swt kepada mereka guna menyelesaikan berbagai masalah keagamaan dan hukum-hukum syariah.
Keterangan di atas sesuai dengan pengalaman Rasulullah saw ketika menerima wahyu dari Malaikat Jibril. Maka terjadilah komunikasi antar keduanya baik dalam penjelmaannya dalam bentuk manusia biasa maupun dalam bentuknya sebagai malaikat yang asli (jisim halus). Khusus untuk komunikasi bentuk terakhir ini Rasulullah saw harus berusaha memindhakan dirinya dari alam lahiriah yang kasar ini ke alam spiritual. Karena komunikasi hanya akan terjadi ketika kedua komunikator dalam frekwensi yang sama. (ulil H)
Jumat, 28 November 2014
Mengusap Wajah dan Bersalaman Setelah Salat.Kang Anwar
Benarkah dalam kitab-kitab fikih tidak
ada kesunahan mengusap wajah setelah Salat? Bagaimana pula hukum
bersalaman setelah Salat? Ahmad Arifin, Sby.
Jawaban:
Memang benar, dalam kitab-kitab fikih
Syaifiiyah tidak ada kesunahan tersebut. Namun, apa yang telah banyak
dilakukan oleh umat Islam tersebut berdasarkan sebuah hadis:
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ
النَّبِيَّ g كَانَ إِذَا صَلَّى وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ مَسَحَ
بِيَمِيْنِهِ عَلَى رَأْسِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللهِ الِّذِي لاَ إِلَهَ
إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ
وَالْحَزَنَ وَفِي رِوَايَةٍ: مَسَحَ جَبْهَتَهُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى
وَقَالَ فِيْهَا “اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ” (رواه
الطبراني في الأوسط والبزار بنحوه بأسانيد وفيه زيد العمى وقد وثقه غير
واحد وضعفه الجمهور وبقية رجال أحد إسنادي الطبراني ثقات وفي بعضهم خلافمجمع الزوائد 10/ 145)
“Diriwayatkan dari Anas bin Malik
bahwa Rasulullah Saw jika selesai dari salatnya, beliau mengusap
kepalanya (dalam riwayat lain keningnya/jabhat) dengan tangan kanannya
dan berdoa ‘Bismillahi alladzi Laa ilaaha illaa huwa ar-Rahmaanu
ar-Rahiimu. Allahumma adzhib ‘anni al-hamma wa al-hazana (Dengan nama
Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ya Allah hilangkan dari
saya kesedihan dan kesusahan)”
Al-Hafidz al-Haitsami berkata: HR
ath-Thabrani dalam al-Ausath dan al-Bazzar. Sebagian perawinya dinilai
terpercaya dan dlaif, perawi lainnya terpercaya. Seandainya pun hadis
ini dlaif, maka sesuai kesepakatan ulama ahli hadis bahwa hadis dlaif
boleh diamalkan dalam keutamaan amal.
Sedangkan bersalaman setelah salat berdasarkan hadis:
وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ خَرَجَ
رَسُولُ اللهِ بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ
صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَبَيْنَ
يَدَيْهِ عَنَزَةٌ … وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ ،
فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ،
فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِى، فَإِذَا هِىَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ،
وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ (رواه أحمد والبخاري)
“Diriwayatkan dari Abu Juhaifah
bahwa Rasulullah Saw keluar dari pada siang hari yang sangat panas
menuju Bathha’, kemudian berwudlu’, salat Dzuhur 2 rakaat dan Ashar 2
rakaat dan dihadapan beliau ada tongkat (sebagai sutrah/pembatas).
Kemudian Rasulullah Saw berdiri, dan orang-orang memegang tangan beliau
(bersalaman) dan meletakkan tangan beliau ke wajah mereka. Saya (Abu
Juhaifah) juga melakukannya. Ternyata tangan beliau lebih sejuk daripada
salju dan lebih harum daripada minyak misik” (HR al-Bukhari No
3289 dan Ahmad No 18789. Dalam riwayat lain para sahabat bersalaman
dengan Rasulullah Saw setelah salat Subuh, HR Ahmad No 17513 dari Yazid
bin Aswad)
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengutip pendapat para ulama:
قَالَ النَّوَوِيّ: وَأَمَّا تَخْصِيصُ
الْمُصَافَحَةِ بِمَا بَعْد صَلَاتَيْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ فَقَدْ
مَثَّلَ اِبْنُ عَبْدِ السَّلَامِ فِي “الْقَوَاعِدِ” الْبِدْعَةَ
الْمُبَاحَةَ مِنْهَا. قَالَ النَّوَوِيّ: وَأَصْلُ الْمُصَافَحَة سُنَّةٌ،
وَكَوْنُهمْ حَافَظُوا عَلَيْهَا فِي بَعْضِ الْأَحْوَال لَا يُخْرِجُ
ذَلِكَ عَنْ أَصْلِ السُّنَّةِ(فتح الباري لابن حجر – ج 17 / ص 498)
“An-Nawawi berkata: Penentuan
bersalaman setelah salat Subuh dan Ashar digolongkan oleh Ibnu
Abdissalam seabagai bid’ah yang diperbolehkan. An-Nawawi berkata: Pada
dasarnya bersalaman adalah sunah. Mereka melakukan salaman pada
waktu-waktu tertentu tidaklah sampai menyimpang dari sunah” (Fath al-Baari 17/498)
Niki ingkang saget qulo aturaken . Suwun
Kamis, 13 November 2014
Kabar Kenaikan BBM
JK Ungkap Alasan Kenaikan Harga BBM Belum Juga Diumumkan
Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah hingga saat ini belum juga mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi. Padahal rencana kenaikan tersebut sudah bergulir sejak lama.
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, kenaikan harga ini seharusnya sudah dilakukan pada awal bulan ini. Namun ditunda karena memperhatikan pergerakan harga minyak dunia yang mengalami penurunan.
"Itu yang mestinya awal bulan tapi kita tunda karena harga minyak dunia turun jadi US$ 80 per barel," ujarnya di Hotel Four Season, Kuningan, Jakarta, Rabu (12/11/2014).
Dia menjelaskan, meski akan menaikan harga BBM, namun subsidi ini tampaknya tidak akan dicabut sepenuhnya.
"Itu tetap ada subsidi tapi tidak sebesar ini," katanya.
JK juga menyadari semakin lama wacana ini bergulir tanpa adanya kepastian, maka akan semakin banyak penolakan. Oleh sebab itu, pemerintah akan mencari jalan terbaik untuk hal ini.
"Ini diharapkan tidak lama ini karena makin lama makin banyak gelombang ketidaksenangan. Ini keputusan yang harus diambil," tandasnya. (Dny/Ndw)
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, kenaikan harga ini seharusnya sudah dilakukan pada awal bulan ini. Namun ditunda karena memperhatikan pergerakan harga minyak dunia yang mengalami penurunan.
"Itu yang mestinya awal bulan tapi kita tunda karena harga minyak dunia turun jadi US$ 80 per barel," ujarnya di Hotel Four Season, Kuningan, Jakarta, Rabu (12/11/2014).
Dia menjelaskan, meski akan menaikan harga BBM, namun subsidi ini tampaknya tidak akan dicabut sepenuhnya.
"Itu tetap ada subsidi tapi tidak sebesar ini," katanya.
JK juga menyadari semakin lama wacana ini bergulir tanpa adanya kepastian, maka akan semakin banyak penolakan. Oleh sebab itu, pemerintah akan mencari jalan terbaik untuk hal ini.
"Ini diharapkan tidak lama ini karena makin lama makin banyak gelombang ketidaksenangan. Ini keputusan yang harus diambil," tandasnya. (Dny/Ndw)
Minggu, 09 November 2014
Menteri Diminta Tidak Mengganti Kurikulum Pendidikan
Menyikapi adanya pergantian menteri baru, para guru madrasah berharap tidak ada kebijakan baru yang mengubah kurikulum 2013. Menurut mereka, perubahan kurikulum hanya akan menambah kebingungan tenaga didik yang sekarang ini masih dalam proses sosialisasi dan implementasi.
Demikian kesimpulan beberapa pernyataan dari para guru Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama (MTs NU) yang dihimpun NU Online di sela-sela acara Workshop Latihan Praktik dan Implementasi Kurikulum 2013 di Aula PCNU Kudus, Kamis (6/11).
Menurut guru MTs NU Miftahul Ma'arif Kaliwungu, Kusdiyanto, pemerintah melalui Menteri Pendidikan tidak perlu mengganti kurikulum 2013 karena dinilai sudah bagus dibanding kurikulum sebelumnya.
"Meskipun biasanya, bila menteri baru muncul kebijakan baru, tetapi soal kurikulum jangan serta merta mengganti maupun mengubah. Kaji ulang terlebih dahulu," katanya.
Ia mengatakan, kurikulum 2013 ini menekankan pada peningkatan akhlak anak didik. Namun, masih perlu adanya peningkatan terkait pembagian persentase antara moralitas dan materi ajar.
"Sekarang ini kan masih 10:90 persen, seharusnya sebanding sama antara moralitas dan materi ajar yakni 50:50," tandas Kusdi, sapaan akrabnya.
Meskipun mengganti kebijakan merupakan kewenangan pemerintah, kata Kusdi, seyogianya dilakukan setelah lima tahun atau pemerintahan berakhir. "Lha, kurikulum 2013 ini saja baru akan diterapkan, masak harus diganti lagi. Kalau selalu ganti, perjuangan guru semakin tidak enak. Bisa-bisa para guru nanti dibingungkan dengan workshop, latihan dan seminar kurikulum seperti ini," katanya.
Guru MTs NU Ibtidaul Falah Samirejo Dawe Noor Said mengharapkan yang sama. Menurutnya, perubahan itu belum perlu dilakukan karena semua guru sedang menyesuaikan pemberlakuan kurikulum 2013 ini.
"Sekarang ini kita sedang menyesuaikan diri untuk menerapkan kurikulum 2013. Bila terus diganti sangat menyulitkan anak didik dalam memahami pola pengajaran maupun metode pendidikan termasuk sistem penilaian hasilnya," ujarnya singkat. (Qomarul Adib/Mahbib)
Langganan:
Postingan (Atom)