Tulisan Berjalan

Sudah Saatnya Pemuda NU Bergerak Dengan Teknologi,Bersama "rojulutsalits" Kita Sebarkan Islam Yang Rahmatan lil'alamin
Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

Sabtu, 31 Oktober 2015

NU Garus Lurus Bukan NU

      Berkaitan dengan istilah NU garis lurus, maka penting rasanya kami menyampaikan pandangan guru kami tercinta Habib Luthfi bin Yahya yang beliau sampaikan di saat berbincang – bincang dengan beberapa aktivis dan Generasi Muda NU ketika selesai mengisi pengajian peresmian sebuah Masjid Raya di kota Karawang beberapa waktu lalu.
Menurut Abah , panggilan akrab beliau, Istilah NU garis lurus sengaja dibuat oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab sebagai upaya PEMBUSUKAN NU DARI DALAM. Bahkan masih menurut beliau bahwa saat ini ada upaya – upaya sistematis yang dilakukan oleh orang – orang yang tak senang dengan NU untuk memecah belah barisan warga NU, menjauhkan warga NU dari Ulamanya dan mengadu domba antara Kyai NU dengan Habaib.
Pada kesempatan yang lain, abah juga pernah memberikan nasihat kepada warga NU agar senantiasa berjuang dan memperkokoh bangunan NU, serta tidak melihat individu tertentu dalam kepengurusan NU andaikata kita tidak suka dengan salah seorang pengurus NU.
Apa yang disampaikan abah, bukanlah isapan jempol belaka, sebab di beberapa daerah sudah mulai muncul ketegangan antara Kyai dengan beberapa Habib. Kita sebagai warga NU harus cerdas memahami masalah ini dan jangan malah masuk ke dalam pusaran arus yang justru bisa menyeret kita pada jurang perpecahan yang sengaja di pasang oleh orang – orang yang tak suka dengan keberadaan NU.
Mari rapatkan barisan, jalin kebersamaan, tingkatkan kewaspadaan dan lebih berhati – hati lagi dalam bersikap apalagi bertindak. Jangan pernah mau kita di adu domba dan di pecah belah oleh orang – orang yang tidak suka dengan kebesaran NU.
الله اكبر حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير
Gus Zimam Hanif

Selasa, 26 Mei 2015

10 Hari Pulang dari Taiwan,TKW Asal Purwogondo Dibunuh

Rumah Sri HartatiBaru beberapa hari di rumah, Sri Hartati (43) ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya. Ada bekas pukulan benda tumpul di kepalanya. Belum diketahui siapa yang tega membunuh perempuan yang baru pulang dari Taiwan ini.Terbunuhnya Sri Hartati membuat geger Dusun Purwogondo, Desa Sumurarum, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Saksi, Slamet (41), mendengar teriakan suami korban, Musriani (45), pada pukul 02.30 WIB, Minggu (24/5/2015).Kemudian dia dan teman-temannya datangmengecek. “Suaminya teriak ‘bojoku, bojoku’ (istriku, istriku),” kata Slamet. Musriani pingsan. Sedangkan korban terbujur di ruang keluarga. Dari telinganya keluar darah.Slamet melapor ke perangkat desa setempat, lalu infonya sampai ke polisi. Diperoleh keterangan bahwa korban merupakan TKW sejak 3 tahun dan pulang dari Taiwan 10 hari lalu.Polisi telah melakukan olah TKP. Namun mereka belum memberikan keterangan secara rinci karena masih harus menyelidiki. Kapolsek Grabag AKP Ign Susana mengatakan korban diautopsi di RSUDSardjito Yogyakarta. “Suami korban kita amankan dan sedang kita periksa,” katanya.

Jumat, 27 Maret 2015

Meluruskan "NU Garis Lurus"


Jumat, 27/03/2015 10:35
Meluruskan “NU Garis Lurus”
Oleh M. Alim Khoiri
--Menjelang muktamar ke-33 NU yang rencananya akan dilaksanakan di kota Jombang, 1-5 Agustur 2015, sudah banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dengan jargon “NKRI harga mati”, NU tak hanya dituntut untuk mampu mengawal keutuhan dan kesatuan negeri tercinta, tetapi juga harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kecil ‘rumah tangga’ yang jika terus menerus diabaikan justeru akan merusak kesatuan dan keutuhan internal NU.
‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU Garis Lurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan “NU Garis Lurus” ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said pun tak lepas dari serangan mereka.
Di dunia maya, “NU Garis Lurus” ini populer melalui media sosial facebook dan jejaring sosial twitter dengan nama akun “NU GARIS LURUS”. Mereka juga terkenal lewat situs pejuangislam.com yang diasuh oleh ust. Luthfi Bashori. Tak hanya mendaku sebagai pejuang Islam atau NU Garis Lurus, kelompok ini juga mengklaim sebagai etafet pemikiran dakwah Sunan Giri. Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham-faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU.
Paradigma “NU Garis Lurus” yang berusaha untuk ‘meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah. Jika kelompok “NU Garis Lurus” ini mengaku sebagai pewaris perjuangan dakwah Sunan Giri, maka mestinya mereka berkaca pada beliau dalam beberapa hal;
Pertama, sejarah mencatat bahwa, dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya sampai pada politik. Dalam bidang pendidikan misalnya, beliau tak segan mendatangi masyarakat secara langsung dan menyampaikan ajaran Islam. Setelah kondisi dianggap memungkinkan beliau mengumpulkannya melalui acara-acara seperti selametan atau yang lainnya, baru kemudian ajaran Islam disisipkan dengan bacaan-bacaan tahlil maupun dzikir. Dengan begitu, masyarakat melunak hingga pada akhirnya mereka memeluk Islam. Kanjeng Sunan Giri tidak mengenal metode dakwah dengan cara mencela atau bahkan menghina.
Kedua, dalam bidang budaya kanjeng Sunan Giri juga memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beliau juga dikenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana, Pucung, Cublak-cublak suweng dan Padhang bulan. Lalu tentu saja beliau masukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Itu semua dilakukan kanjeng Sunan demi tersebarnya ajaran Islam yang damai. Kanjeng Sunan -sekali lagi- tidak mengajarkan metode berdakwah dengan saling mencemooh atau menghujat mereka yang tak sependapat.
Ketiga, di bidang politik, kanjeng Sunan Giri dikenal sebagai seorang raja. Dalam menjalankan kekuasaannya, beliau tak pernah berlaku otoriter dan semaunya sendiri. Beliau selalu menggunakan cara-cara persuasif untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam. Beliau tidak mencontohkan strategi dakwah dengan cara mencaci maki mereka yang tidak sefaham.
Wa ba’du, Terlepas dari apakah “NU Garis Lurus” ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin ataukah sekedar ulah oknum yang tak bertanggung jawab, yang jelas supaya betul-betul lurus, “NU Garis Lurus” mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. “NU Garis Lurus” juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika “NU Garis Lurus” terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih mendaku sebagai kelompok “NU Garis Lurus”, yang ada mereka justeru menjadi “NU Garis Keras”. Wallahu a’lam.
M. Alim Khoiri, warga NU tinggal di Kediri

Sabtu, 29 November 2014

Kaget Petir diwaktu Sholat


Waktu hujan telah tiba, geluduk dan geledek sering menyambar tak terduga. Membuat kaget mereka yang tidak siap mendengarnya. Kaget itu menyebabkan seseorang lupa. Lupa tentang apa yang dilakukan dan dipikirkannya. Lalu bagaimanakah jika datang geledek sedangkan kita lagi shalat? Pastilah geledek tetap saja berbunyi walaupun kita shalat. Masalahnya apakah shalat kita tidak batal karena kaget yang mendadak bahkan juga sampai melupakan bacaan bahkan juga tindakan dalam shalat kita?

Kaget tidak termasuk dalam perkara yang dapat membatalkan shalat, apapun sebabnya. Hanya saja keraguan mengenai bacaan dan tindakan shalat yang dikarenakan kaget mendadak hendaknya diulang saja seingatnya. Misalkan apakah ayat ‘hdinash shirthal mustaqim’ sudah dibaca atau belum, hendaknya dalam kasus ini diulang saja. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Fathul Muin

واستأنف وجوبا ان شك فيه قبله أى التمام كما لوشك هل قرأها اولا لأن الأصل عدم قرائتها وكالفاتحة فى ذلك سائر الاركان

Dan wajiblah seseorang memulai lagi membaca fatihah jika ia ragu sebelum sempurna bacaannya. Sebagaimana dia ragu apakah sudah dibacanya fatihah atau belum. Karena pada hakikatnya yang asal adalah belum membaca. Demikian juga denagn rukun-rukun yang lain.  (Ulil H)

Kang Anwar

Dapatkah Manusia Melihat Malaikat

 Diantara salah satu hal yang harus diimani seorang mukmin adalah keberadaan malaikat yang memiliki berbagai tugas dari Allah swt. Baik yang berhubungan langsung dengan manusia ataupun dengan makhluk lain.
Dalam kitabnya Al-Jawahir al-Kalamiyyah, Syaikh Thahir bin Shalih al-Jazairi menerangkan bahwa malaikat adalah :

هم أجسام لطيفة مخلوقة من نور لايأكلون ولايشربون وهم عباد مكرمون لايعصون الله ما أمرهم ويفعلون مايؤمرون

Makhluk Allah swt yang tercipta dari cahaya dalam bentuk jisim halus, malaikat tidak makan dan tidak minum. Mereka adalah makhluk mulia yang taat kepada Allah dan tidak pernah melanggar apa yang diperintahkannya.

Sesama makhluk yang diciptakan oleh Allah swt, wajar saja jika manusia ingin mengetahui makhluk yang diceritakan penuh kemuliaan, makhluk yang pernah mengawal dan selalu setia menemani Rasulullah saw baik dalam suka maupun duka. Pertanyaannya kemudian mungkinkah manusia dapat berjumpa dengan malaikat?  Mengenai hal ini syaikh Thahir al-Jazairi melanjutkan keterangannya bahwa:

لايرى البشر غير الأنبياء الملائكة اذا كانوا على صورهم الاصلية لانهم اجسام لطيفة كما انهم لايرون الهواء مع كونه جسما مالئا للفضاء لكونه لطيفا واما اذا تشكلوا بصورة جسم كثيف كالانسان فيرونهم ورؤية الانبياء لهم على صورهم الاصلية خصوصية خصوا بها لتلقى المسائل الدينية والاحكام الشرعية

Manusia tidak bisa melihat bentuk asli malaikat kecuali para nabi. Karena, sebagaimana diterangkan di atas malaikat tercipta dari jisim halus (jismin lathifin) seperti udara di dalam ruangan yang tidak dapat dilihat dengan mata (tetapi bisa dirasa kehadirannya). Namun apabila malaikat mewujudkan dirinya dalam bentuk  raga kasar (jismin katsifin) sebagaimana manusia maka semua orang bisa melihatnya. Adapun kemampuan para nabi melihat malaikat dalam bentuknya yang asli (jisim halus) tidak lain merupakan kekhusushan yang diberikan Allah swt kepada mereka guna menyelesaikan berbagai masalah keagamaan dan hukum-hukum syariah.

Keterangan di atas sesuai dengan pengalaman Rasulullah saw ketika menerima wahyu dari Malaikat Jibril. Maka terjadilah komunikasi antar keduanya baik dalam penjelmaannya dalam bentuk manusia biasa maupun dalam bentuknya sebagai malaikat yang asli (jisim halus). Khusus untuk komunikasi bentuk terakhir ini Rasulullah saw harus berusaha memindhakan dirinya dari alam lahiriah yang kasar ini ke alam spiritual. Karena komunikasi hanya akan terjadi ketika kedua komunikator dalam frekwensi yang sama. (ulil H)

Jumat, 28 November 2014

Mengusap Wajah dan Bersalaman Setelah Salat.Kang Anwar


muhammad ilham shalatPertanyaan:
Benarkah dalam kitab-kitab fikih tidak ada kesunahan mengusap wajah setelah Salat? Bagaimana pula hukum bersalaman setelah Salat? Ahmad Arifin, Sby.
Jawaban:
Memang benar, dalam kitab-kitab fikih Syaifiiyah tidak ada kesunahan tersebut. Namun, apa yang telah banyak dilakukan oleh umat Islam tersebut berdasarkan sebuah hadis:
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ g كَانَ إِذَا صَلَّى وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ مَسَحَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى رَأْسِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللهِ الِّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ وَفِي رِوَايَةٍ: مَسَحَ جَبْهَتَهُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى وَقَالَ فِيْهَا “اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ” (رواه الطبراني في الأوسط والبزار بنحوه بأسانيد وفيه زيد العمى وقد وثقه غير واحد وضعفه الجمهور وبقية رجال أحد إسنادي الطبراني ثقات وفي بعضهم خلافمجمع الزوائد 10/ 145)
“Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw jika selesai dari salatnya, beliau mengusap kepalanya (dalam riwayat lain keningnya/jabhat) dengan tangan kanannya dan berdoa ‘Bismillahi alladzi Laa ilaaha illaa huwa ar-Rahmaanu ar-Rahiimu. Allahumma adzhib ‘anni al-hamma wa al-hazana (Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ya Allah hilangkan dari saya kesedihan dan kesusahan)”
Al-Hafidz al-Haitsami berkata: HR ath-Thabrani dalam al-Ausath dan al-Bazzar. Sebagian perawinya dinilai terpercaya dan dlaif, perawi lainnya terpercaya. Seandainya pun hadis ini dlaif, maka sesuai kesepakatan ulama ahli hadis bahwa hadis dlaif boleh diamalkan dalam keutamaan amal.
Sedangkan bersalaman setelah salat berdasarkan hadis:
وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ  بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ … وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ ، فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ، فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِى، فَإِذَا هِىَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ (رواه أحمد والبخاري)
“Diriwayatkan dari Abu Juhaifah bahwa Rasulullah Saw keluar dari pada siang hari yang sangat panas menuju Bathha’, kemudian berwudlu’, salat Dzuhur 2 rakaat dan Ashar 2 rakaat dan dihadapan beliau ada tongkat (sebagai sutrah/pembatas). Kemudian Rasulullah Saw berdiri, dan orang-orang memegang tangan beliau (bersalaman) dan meletakkan tangan beliau ke wajah mereka. Saya (Abu Juhaifah) juga melakukannya. Ternyata tangan beliau lebih sejuk daripada salju dan lebih harum daripada minyak misik” (HR al-Bukhari No 3289 dan Ahmad No 18789. Dalam riwayat lain para sahabat bersalaman dengan Rasulullah Saw setelah salat Subuh, HR Ahmad No 17513 dari Yazid bin Aswad)
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengutip pendapat para ulama:
قَالَ النَّوَوِيّ: وَأَمَّا تَخْصِيصُ الْمُصَافَحَةِ بِمَا بَعْد صَلَاتَيْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ فَقَدْ مَثَّلَ اِبْنُ عَبْدِ السَّلَامِ فِي “الْقَوَاعِدِ” الْبِدْعَةَ الْمُبَاحَةَ مِنْهَا. قَالَ النَّوَوِيّ: وَأَصْلُ الْمُصَافَحَة سُنَّةٌ، وَكَوْنُهمْ حَافَظُوا عَلَيْهَا فِي بَعْضِ الْأَحْوَال لَا يُخْرِجُ ذَلِكَ عَنْ أَصْلِ السُّنَّةِ(فتح الباري لابن حجر – ج 17 / ص 498)
“An-Nawawi berkata: Penentuan bersalaman setelah salat Subuh dan Ashar digolongkan oleh Ibnu Abdissalam seabagai bid’ah yang diperbolehkan. An-Nawawi berkata: Pada dasarnya bersalaman adalah sunah. Mereka melakukan salaman pada waktu-waktu tertentu tidaklah sampai menyimpang dari sunah” (Fath al-Baari 17/498)

 Niki ingkang saget qulo aturaken . Suwun

Kamis, 13 November 2014

Kabar Kenaikan BBM

JK Ungkap Alasan Kenaikan Harga BBM Belum Juga Diumumkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah hingga saat ini belum juga mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi. Padahal rencana kenaikan tersebut sudah bergulir sejak lama.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, kenaikan harga ini seharusnya sudah dilakukan pada awal bulan ini. Namun ditunda karena memperhatikan pergerakan harga minyak dunia yang mengalami penurunan.

"Itu yang mestinya awal bulan tapi kita tunda karena harga minyak dunia turun jadi US$ 80 per barel," ujarnya di Hotel Four Season, Kuningan, Jakarta, Rabu (12/11/2014).

Dia menjelaskan, meski akan menaikan harga BBM, namun subsidi ini tampaknya tidak akan dicabut sepenuhnya.

"Itu tetap ada subsidi tapi tidak sebesar ini," katanya.

JK juga menyadari semakin lama wacana ini bergulir tanpa adanya kepastian, maka akan semakin banyak penolakan. Oleh sebab itu, pemerintah akan mencari jalan terbaik untuk hal ini.

"Ini diharapkan tidak lama ini karena makin lama makin banyak gelombang ketidaksenangan. Ini keputusan yang harus diambil," tandasnya. (Dny/Ndw)